MEMBANGUN TUBUH KRISTUS

25 08 2017

Hagai 1:1-14

Ds. Edward E. Hanock

Iklan




TERSEMBUNYI UJUNG JALAN!

24 08 2017

Matius 6:7-11

Ps. Edward Everson Hanock

Indonesia adalah negara yang pluralis. Salah satu indikatornya ialah ‘agama’—selain: suku, bahasa, budaya,  dan lain sebagainya. Sebagaimana diakui oleh pemerintah, ada 7 (tujuh) agama, yang dianut di bangsa kita, antara lain: Islam, Kristen (terbagi dua: Protestan dan Katholik), Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan Saksi Yehuwa. Selain 7 (tujuh) agama yang diakui oleh pemerintah di atas,  masih banyak keyakinan/agama yang dianut di tengah-tengah bangsa kita, yang dikenal dengan sebutan ‘agama suku’. Pluralitas agama adalah salah satu sisi dari wajah bangsa kita yang mencerminkan bahwa bangsa ini memiliki modal spiritualitas, di samping modal sosial, modal budaya, dan modal sumber daya alam!

Dalam kaitannya dengan spiritualitas—bagaimana hal itu tampak semestinya—kita mendapati bahwa TUHAN Yesus mengoreksi dua hal sekaligus, yakni: pemahaman dan aktualisasi spiritualitas orang banyak (lih. Mat. 5:1a— Yun. ochlous) yang mengikuti-Nya, termasuk murid-murid-Nya (5:1b—Yun. hoi mathetai autou). Perhatikan perkataan TUHAN Yesus, yang dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Jika hidup keagamaanmu tidak melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, maka kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 5:20). Di dalam Matius 6:1 juga ditekankan hal serupa: “Perhatikanlah, jangan melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang, dengan maksud untuk dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di Surga”. Istilah keagamaan (Yun. dikaiosyne ) berbeda dengan istilah dikaiosyne yang digunakan oleh rasul Paulus, yang lebih mengacu pada arti keselamatan, soteriologis.

Perbandingan hidup keagamaan antara ‘kamu’ (orang banyak + murid-murid TUHAN Yesus) dan ‘ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi’ tidak berarti bahwa yang satu dari kedua kelompok ini akan menjadi acuan, entahkah itu orang banyak atau pemuka-pemuka agama. Yang ingin disoroti di sini adalah pemahaman mereka dan bagaimana mereka menerjemahkannya ke dalam kehidupan praksis. Apakah mereka [dan apakah kita juga] mengerti dengan baik tentang substansi sedekah, substansi doa, dan substansi puasa? Jangan-jangan, bukan hanya ‘mereka’, bahkan kita juga terjebak dalam ritualisme semata. Memberi, berdoa, dan berpuasa dengan maksud tertentu. Kita mendesak dan menuntut publik supaya mereka mengetahuinya, bahkan supaya mereka memberikan penilaian bahwa kita memiliki kehidupan rohani yang baik.

Sorotan TUHAN Yesus, sangat tajam terhadap ritual-ritual keagamaan yang kosong dan yang mengingkari kemanusiaan. Mereka (dan bisa saja juga kita) berlindung di balik ayat-ayat suci; ketat melakukan Torat Adonai (Taurat TUHAN), lih. Matius 5:17-48. Sayangnya, urusan membenci saudara, kemunafikan, dan lain sebagainya tidak mampu diselesaikan atau tetap dilakukan. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka (dan bisa saja juga kita) terlihat begitu dermawan (suka memberi) dan begitu rohani (suka berdoa dan berpuasa). Tetapi mereka berdiri di ruang-ruang publik, di fasilitas-fasilitas publik/umum/sosial, bahkan di rumah-rumah ibadat. Mereka mengucapkan 18 doa/ucapan syukur (Amidah), sekurang-kuranya 3 (tiga) kali dalam sehari. Atau shema sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam sehari. Mereka ada di sana, mengucapkan doa, namun pada saat bersamaan menjelekkan orang lain. Lukas mencatat sebuah perumpamaan yang diucapkan oleh TUHAN Yesus tentang dua orang yang berdoa di Bait Suci. Yang satu adalah Farisi dan yang lain adalah pemungut cukai (pegawai pajak). Kata orang Farisi: ‘Ya Tuhan, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama dengan orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa 2 (dua) kali dalam seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari penghasilanku’; tetapi pemungut cukai itu berkata: “Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk. 18:10-14). Pemungut cukai ini, tidak menunjuk orang lain. Melainkan menunjuk dirinya sendiri. Bait Suci dan Synagoge, atau dalam konteks kita: gereja, disalahgunakan.

Timothy Keller berkata: The Church is a hospital for the sick. Not a museum for Saints.

Doa menjadi mubazir dan tidak berdampak sama sekali. Apa sebabnya? Sekurang-kurangnya terdapat 2 (dua) faktor penyebab: munafik (Mat. 6:2; 5, 16) dan bertele-tele (Mat. 6:7). Kemunafikan, menurut KBBI, dipahami sebagai ‘sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatan’. Antara kata dan perbuatan, tidak sinkron. Kita sering mendengar ujaran begini: ia bermuka dua. Itulah munafik. Ia adalah virus yang menyerang pemberian sedekah, doa, dan puasa. Kemunafikan selalu bersifat publisitas. Ingin diketahui semua orang. Tetapi dengan motivasi yang tidak suci (provan). Bertolak belakang dengan hal itu, TUHAN Yesus berkata: ‘Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Hal ini sebenarnya adalah kiasan dari umat TUHAN Perjanjian Lama, Israel, yang sedang bersembunyi di dalam sebuah kamar dari penghakiman atau murka TUHAN, namun pada saat yang sama hal itu merupakan sebuah antisipasi terhadap berkat TUHAN yang akan mereka terima (Yes. 26:20). Begitu juga dengan pemberian sedekah dan puasa (Mat. 6:4; 18). Kita tidak berdoa kepada Bapa yang tersembunyi. Justru kita berdoa kepada Bapa yang sudah menyatakan diri-Nya, bahkan dikenal melalui TUHAN Yesus. “Jika engkau melihat Aku, engkau melihat Bapa”, ‘Jika engkau mendengar suara-Ku, engkau mendengar suara Bapa’. Pastikan bahwa kita berada dan berdoa di tempat yang tepat, seperti Daniel. Dia pergi ke rumahnya. Ia masuk ke kamarnya. Dan di sana ia berdoa kepada TUHAN, 3 (tiga) kali sehari. TUHAN menyelamatkannya! Bukan saja dari tangan binatang buas, tetapi juga dari upaya pembunuhan Daniel, baik secara karakter (menjelek-jelekkan) maupun secara fisik. 

Kita sepakat bahwa doa bukanlah soal publicity (publisitas). Doa adalah soal privacy (privasi).  Doa bukanlah verbocity (bertele-tele tidak karuan), tetapi simplicity (simplisitas, bukan simplistis—karena simplistis berarti tidak wajar). Doa bukan juga soal tata kelola kata. Doa adalah ungkapan bahasa relasi antara Bapa dengan anak-anak-Nya. Doa tepatnya adalah manajemen hati kita. Kita tidak perlu berteriak dan dengan panjang lebar menyampaikan kepada Bapa di Surga. Karena Ia pasti tahu apa keperluan kita. Dalam hal inilah TUHAN membawa kita kepada jalan menuju pada jawaban dari permohonan kita. Ia menyibak jalan yang tersembunyi itu. Jalan yang ujungnya tidak merugikan tetapi justru menguntungkan kita.

TUHAN Yesus berkata, “Jangan menyerupai mereka!” yang mementingkan pengakuan di muka umum, tetapi menolak untuk mengakui Bapa; yang berupaya sekuat tenaga membuka jalan yang tersembunyi, tetapi justru makin tersesat di jalan yang dibuatnya itu. Berdoalah dengan berpusat pada Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di Surga […]”  (Mat. 6:9). Berpusat pada Bapa berarti berpusat pada persekutuan dengan-Nya. Di sinilah pentingnya kita memahami kata kami yang menginsafkan kita bahwa ketika kita berdoa seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ini, kita adalah bagian dari anggota persekutuan, yakni persekutuan pengikut-pengikut Tuhan Yesus, meskipun kita berdoa secara pribadi! Maka Bapamu yang ada di Surga (=di tempat tersembunyi), akan mencukupkan keperluan kita, membawa kita kepada hidup yang berkemenangan atas dosa, berkecukupan, dan menuntun kita kepada kemuliaan-Nya yang kekal sebagaimana disebutkan pada akhir ayat 13: ‘Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan, sampai selama-lamanya’.

Ujung jalan yang tersembunyi, dibuka oleh TUHAN melalui doa, sehingga kita berjalan dalam kemulian-Nya. Amin.





Cara-cara beragam membaca dan menafsir Alkitab

31 07 2012

Apakah memungkinan seseorang menentukan secara pasti arti dari teks-teks Alkitab? Dan apakah juga yang dimaksud dengan ‘membaca’ dan ‘menafsir’ Alkitab?
Paling kurang ada empat cara membaca dan menafsir Alkitab:
1) Pengertian dan penjelasan Alkitab sangat berhubungan erat dengan pusat berita keselamatan. Hal yang berkaitan dengan ini adalah: keberadaan Allah, kedatangan Kristus yang berkaitan dengan pengampunan dari dosa, dll.
2) Pengakuan Gereja.
3) Berhubungan dengan etiek
4) membaca secara eksegetis.





Imamat 1-7 dan 16

7 12 2011

Kesejarahan Kitab Imamat (lihat hubungan erat Keluaran 40:34 dan Imamat 1:1, khususnya terkait dengan kata ’ohel mo‘ed) mengandung konsekuensi terhadap maksud kitab tersebut. Anda dan saya tentu saja tahu bahwa Kitab Imamat terdiri atas: hukum-hukum (laws) dan ketetapan-ketetapan (regulations).
Ketetapan-ketatapan itu sendiri sangat jelas dihubungkan dengan moment tertentu dalam sejarah umat Israel (yang bisa ditelusuri kembali dalam Kitab Keluaran), misalnya: berdomisilinya Israel di Sinai (untuk sementara waktu), serta catatan sejarah mengenai tempat-tempat persinggahan antara eksodus dari Mesir dan ‘entry’ (masuk) ke tanah perjanjian.
Dengan kata lain ketetapan-ketetapan/peraturan-peraturan itu, c.q. tentang kurban persembahan dan hari pendamain, harus dibaca dalam perspektif di atas. Tujuan ‘exodus’ dan ‘entry’ harus dikoneksikan dengan regulasi-regulasi di atas.
Apa sebenarnya tujuan keluar dari Mesir dan masuk ke tanah perjanjian? Sebelum dan ketika TUHAN menuntun keluar umat Israel dari Mesir, Ia telah menjanjikan bahwa mereka akan masuk ke tanah perjanjian, yang berlimpah susu dan madu. Tetapi nuansa berita itu tidak tampak dalam inti berita yang TUHAN berikan kepada Musa untuk menghadap Firaun. Malah yang menjadi aksen penting dalam berita itu adalah: biarkanlah umat-Ku pergi untuk beribadah kepada-Ku (Ex. 7:26; 9:1, 13). Dimensi tanah perjanjian itu dapat dikatakan sebagai unsur/aspek ke sekian dari tujuan TUHAN yang sebenarnya.
Langsung setelah umat Israel sampai di Sinai dan Musa naik ke gunung itu untuk bertemu dengan TUHAN, Musa pun turun dengan nuansa message yang menyolok: “…kalian adalah kerajaan imam, bangsa yang kudus” (Kel. 19:6). Sungguh berbeda bukan?

Seringkali peristiwa “eksodus” mengarahkan kita kepada pembebasan umat Allah dari perbudakan. Hal itu ada benarnya. Tetapi itu bukan tujuan satu-satunya. Tujuan utama TUHAN untuk membebaskan Israel adalah agar umat itu melayani-Nya, hidup bersama-sama dengan TUHAN, dan TUHAN bersama-sama dengan mereka. Bersama dengan TUHAN berarti “terpisah” dari bangsa lain dan dari semua yang bertentangan/berlawanan dengan kekudusan TUHAN (Im. 11:44-45; 19; 20:26)
Tujuan dari semua ketetapan-ketetapan dalam Kitab Imamat adalah untuk menjelaskan bagaimana Israel pada jalan/cara TUHAN harus “berjalan” dan “hidup”. Itulah sebabnya muncul 7 pasal pertama yang mengatur ketetapan tentang kurban persembahan dan juga pasal 16 sebagai hari pendamaian besar; kedua bagian ini sebenarnya, secara tidak langsung, menyatakan dengan jelas kepada kita bahwa Israel seringkali keliru alias gagal.





Keluaran 4:16; 7:1-5: “elohim” dan “nabi”

7 12 2011

Dua kata ini mendadak seleb (baca: popular). Bagaimana tidak, Musa sendiri disebut sebagai elohim ketika akan menghadap dan berdiri di hadapan Firaun (Amenhotep II atau Ramses II?, yang juga menyebut dirinya elohim), dan kakaknya, Harun, akan berperan sebagai nabi. “Elohim? Nabi? Apakah tidak keliru?” Begitulah kira-kira reaksi kita. Apa yang disebut dalam Kel. 7 ini tidak salah alias benar adanya. Dalam teks ini, peran keduanya bukanlah peran pengganti. Baik Musa dan Harun sama-sama menunaikan peran ‘sungguhan’ sebagaimana ditandaskan pada awal pasal ini (7:1-2).
Lalu apa arti sebenarnya kedua kata ini? Jawabannya bergantung pada konteks dialog sarat makna antara TUHAN dan Musa (Kel. 3:1-4:17; 6:2- 12). Dalam Keluaran 4:10, 13; 6:12, 30 Musa mengelak pengutusannya ke Firaun. Tentu saja ia menolak tidak secara frontal tanpa alasan jelas, sebagaimana lazim penolakkan kita: “pokoknya…tidak” . Menurut pengakuan Bil. 12:3 Musa adalah seorang yang lembut hatinya, bahkan melebihi siapapun di muka bumi. Sebab itu, kita bisa menarik benang merah dari sana dan menyimpulkan bahwa ia pasti menjawab dengan kalem, jauh dari “pokoknya….”. Dari sinilah kita bisa mulai menelusuri arti kedua kata ini.
Sekarang kita akan melihat secara dekat kata nabi dulu. Disebutkan diawal bahwa abangnya, Harun, akan menjadi nabi bagi Musa (lih. penegasan dalam Kel. 7:1 akhika yihye nevi’eka “saudaramu akan menjadi nabimu”). “nabi-mu” sangat jelas adalah sebuah “clue” yang akan menggiring kita pada fakta bahwa Harun, atas nama Musa, akan meneruskan perkataan Musa kepada Firaun (lih. Kel. 7:2; bnd. 4:16). Titik terang arti nabi di sini segera muncul ke permukaan, yakni agak sedikit umum. Nabi (dalam konteks ini) menunjuk kepada seseorang yang “tidak mesti/harus” mengucapkan nubuatan (mengenai hal-hal futuris), tetapi juga adalah seseorang yang atas nama TUHAN meneruskan perkataan-Nya.
Nabi, sudah. Bagaimana dengan elohim? Apakah TUHAN tidak salah menentukan Musa sebagai elohim? Tidak! TUHAN memang benar menyebutnya elohim. Penyebutan itu tentu memiliki latarbelakang. Kita tentu paham bahwa di dunia Mesir, seorang raja (baca: Firaun) adalah elohim. Para firaun selalu memandang dan menempatkan diri mereka pada level elohim. Apabila ide ini ikut bermain dalam teks ini, maka kita akan terkagum-kagum dengan cara TUHAN meng-encourage Musa dengan cara memberikan kuasa padanya. Tujuannya ialah agar Musa tidak perlu takut menghadap Firaun, meskipun Firaun dikenal bahkan dielu-elukan sebagai elohim di seantero Mesir. Jadi TUHAN menyebut Musa “elohim” sebagai kebalikan yang setara dengan firaun, raja Mesir yang ditakuti. Itulah arti elohim bagi Musa!





TEKS KITAB YEREMIA

7 12 2011

Teks kitab Yeremia telah menjadi kutub magnet yang kuat menarik kritik teks (lower criticism) dan kritik sejarah dan literer (higher criticism). Di kalangan para sarjana, misalnya, sudah bukan rahasia lagi bahwa teks LXX (Septuaginta) Kitab Yeremia tidak berisi kata yang sama dengan MT (Masoretic Text). Jumlahnya juga tidak tanggung-tanggung, 2,700 kata. MT dalam posisi lebih panjang dari LXX. LXX tidak hanya berisi teks yang lebih pendek, tetapi juga ada sejumlah perbedaan susunan, misalnya ucapan-ucapan ilahi terhadap bangsa-bangsa (46-51, versi MT), telah direlokasi pada posisi sesudah Yeremia 25:13.
Perdebatan mengenai perbedaan yang signifikan dari kedua sumber teks ini (MT dan LXX), juga memicu serentetan pertanyaan apakah ini adalah hasil dari seorang editor yang menuangkan kembali MT atau apakah penerjemah LXX mengikuti teks Ibrani yang lain dari pada yang terepresentasi dalam MT. Penemuan naskah-naskah Qumran juga tidak menyurutkan perdebatan itu, meskipun fragmen 4QJer(a) dan 4QJer(c) memiliki kesamaan dengan teks MT dan memberikan bukti, menurut Longman/Dillard, saksi awal untuk teks MT dalam Kitab Yeremia. Sebaliknya fragmen 4QJer(b) justru sejalan dengan teks Ibrani yang digunakan oleh penerjemah LXX. Memang agak rumit menjatuhkan pilihan, mana yang lebih awal. Dugaan mengenai kemungkinan para penerjemah LXX menggunakan teks Ibrani lain di luar MT, terlalu lemah, karena sejauh ini hanya ada beberapa sumber teks Ibrani yang dapat diajukan, misalnya: Pentateukh Samaria (terbatas pada lima kitab Musa), kodeks Aleppo (kira-kira tahun 930 M), kodeks Leningrad (kira-kira tahun 1010 M), dan juga teks Qumran yang ditemukan pada tahun 1941. Dan sampai sekarang itu hanya sekadar proposal.
Secara sepintas, dan itu alamiah, terendus kesan bahwa yang lebih “ringkas” itulah yang merepresentasikan tingkatan lebih awal dalam sejarah teks sebuah kitab. Dari situ kemudian akan tampak upaya perluasan dari penyalin untuk megklarifikasi/menjelaskan ataupun cara lain kepada para pembaca.
Langkah-langkah pemecahan lainnya adalah diajukannya proposal bahwa bisa saja persoalan teks ini diselesaikan pada tingkat transmisi teks yang adakalanya bermuara pada kesalahan para penulis dalam dal penghilangan sejumlah kata (haplografi) maupun pengulangan beberapa kata (ditografi), dll. Tetapi, lagi-lagi gagasan di atas dianggap tidak bisa memecahkan persoalan ini.
Emanuel Tov sendiri berusaha menengahi masalah ini dengan memberikan gambaran mengapa teks MT lebih panjang. Ia mengajukan dua klasifikasi: 1) editorial, dan 2) perubahan eksegetis. Perubahan editorial, menurutnya mencakup beberapa kategori: a) aransemen teks (salah satu contoh adalah letak ucapan-ucapan ilahi terhadap bangsa-bangsa lain), b) penambahan headings pada nubuatan-nubuatan (lih. Yer. 2:1-2; 7:1-2; 16:1; 27:1-2); c) pengulangan beberapa bagian (lih. Yer. 6:22-24=50:41-43; 10:12-16=51:15-19); d) penambahan ayat-ayat baru dan beberapa bagian (mis. Yer. 10:6-8; 17:1-4; 46:26, dll., yang tidak ditemukan dalam LXX); e) penambahan detail-detail (Yer. 25:20, 25, 26); dan f) adanya modifikasi pada sejumlah isi dan formula-formula (Yer. 29:25; 35:18; 36:32).

bersambung…..





Masoretik Teks

2 03 2011

Würthwein berpendapat bahwa keberadaan manuskrip pada abad ke-10/11 adalah sangat jarang bahkan terasa janggal. Ia juga menambahkan bahwa manuskrip secara melimpah terdapat pada periode yang lebih belakangan.  Koleksi dari manuskrip-manuskrip Ibrani yang lebih komprehensif dan lebih bernilai, terdapat di State Public Librabry di St. Petersburg. Ada dua koleksi manuksrip yang dibawa ke sana pada tahun 1863 dan 1876 oleh seorang anggota sekte Karaite Rusia, Abraham Firkowitsch, terutama dari sinagoge-sinagoge Karaite di Timur. Firkowitsch adalah seorang pemalsu yang dikenal berkelakukan buruk. Ia seringkali menambah kolofon baru dan menghilangkan tanggal atau tahun yang tertera dalam sejumlah manuskrip-manuskrip awal. Tujuannya hanya satu: untuk membuktikan bahwa sektenya, Karaite, adalah sekte yang sudah dikenal sejak lama. Fakto lain yang mendorongnya untuk melakukan itu juga adalah prasuposisinya bahwa sektenya, Karaite Yahudi, adalah satu-satunya Yahudi sejati.  Meskipun demikian, menurut Würthwein, manuskrip-manuskrip yang ia kumpulkan sangat penting. Dalam kalkulasi Würthwein, koleksi manuskrip (kedua) yang berkaitan dengan bagian Alkitab  yang dibawa oleh Firkowitsch terdiri atas 1,582 bagian yang disalin ke dalam perkamen-perkamen dan 725 bagian lainnya di salin di atas kertas. Koleksi lainnya pada perpustakaan yang sama mencapai 1,200 fragmen.  Diduga koleksi itu berasal dari Geniza Kairo yang dikumpulkan oleh Antonin, seorang archimandrite Rusia di Yerusalem (Würthwein, 31).

Namun yang paling terkenal dari sejarah teks Perjanjian Lama adalah ketika ditemukannya manuskrip di Qumran (Q) di Laut Mati pada 1947. Penemuan-penemuan ini telah menenmpatkan kita pada kepemilikan manuskrip beberapa abad lebih tua dari yang pernah kita ketahui sebelumnya. Würthwein berpendapat bahwa manuskrip-manuskrip itu berasal dari satu kelompok dan satu periode yang pada waktu itu belum ada satu bentuk teks yang dianggap dan disebarkan sebagai satu-satunya teks yang secara eksklusif otoritatif (Würthwein, 31).

Bagian yang paling populer dari Qumran adalah gua 4 (cave 4) dengan jumlah fragmen lebih dari 380 manuskrip. Kira-kira 120 diantaranya berkaitan erat dengan teks Alkitab PL, dan gua 11 (cave 11) yang berisi (seperti halnya gua 1 [cave 1]) teks-teks yang relatif tidak rusak.  Bukti arkeologi untuk Qumran sendiri diduga berasal dari tahun 70 M. (lihat lebih lanjut Imanuel Tov).

Di samping penemuan teks-teks Qumran, penemuan di Murabba’at (dikenal dengan singkatan: Mur) juga memberikan informasi yang  signifikan. Penemuan di Murabba’at sendiri mencakup teks-teks biblical dari abad ke-2 M. Penemuan penting lainnya adalah ditemukannya 14 gulungan dengan teks PL yang berasal dari tahun 733 M, yang ditemukan pada tahun 1963-1965 di Masada, di padang gurun Judea. Dari tiga penemuan di atas hampir dapat dipastikan bahwa teks Kitab Yehezkiel tampaknya adalah varian yang kurang signifikan.

Oleh karena Qumran merupakan penyuplai informasi terbesar mengenai manuskrip maka kita perlu membicarakannya terlebih dahulu, di samping introduksi singkat di atas.

Qumran

Sudah disebutkan di atas bahwa teks-teks PL yang ditemukan pada tahun 1947 terdapat atau tepatnya ditemukan dalam sejumlah gua (cave). Pertama, kita akan membahas gua 1 (cave 1). Dalam cave 1 ini adalah manuskrip Yesaya (1QIsa=Qa).  Gulungan ini terutama menyokong Masoretik Teks (MT).  Namun perlu diingat juga bahwa gulungan memiliki sejumlah besar varian-varian teks. Varian-varian teks ini memang menjadi perhatian para sarjana PL, khususnya ketika membahas Kitab Yesaya dalam riset/rekonstruksi teks atau eksegesis. Memang ada beberapa  pendapat yang berbeda mengenai Qa di atas. Misalnya Shemaryahu Talmon (dikutip dari Würthwein) yang berpendapat bahwa 1Qisa atau Qa adalah sebuah kesaksian pada eksegesis Yahudi, dan penulisnya adalah seorang ekseget yang sangat terampil. Arie van der Kooij berpendapat bahwa penulis gulungan Qa bukan saja seorang penyalin, tetapi lebih dari pada itu, ia adalah seorang sarjana yang sangat terpelajar, dan dapat dibandingkan dengan Guru Kebenaran (the Teacher of Righteousness). Di samping Qa terdapat juga manuskrip Yesaya yang kedua yang dinisialkan sebagai 1QIsb atau dikenal dengan Qb. Manuskrip ini bersifat fragmentaris. Meskipun demikian manuskrip ini terlihat memiliki kesamaan yang cukup erat dengan Masoretik Teks.

Gua 1 (cave 1) bukan hanya berisi gulungan Kitab Yesaya, tetapi juga gulungan Kitab Habakuk, yang dikenal dengan inisial 1QpHab.  Gulungan ini terdiri atas dua lembar kulit yang dijahit secara besama.  Tampak fisiknya mensyaratkan bahwa hanya (lembar) bagian atas yang terawat. Di dalamnya terdapat rumusan kalimat “ini berarti…[this means….]” yang dikenal luas sebagai sebuah introduksi tafsiran. Sebutan popular untuk gulungan ini adalah peser (tafsiran Habakuk).

Selain gulungan kitab Yesaya, terdapat juga gulungan Kitab Mazmur (dalam Qumran).  Gulungan ini ditemukan dalam gua 11 (cave 11), dan dikenal dengan singkatan 1QPsa.  Dalam gulungan ini terdapat 41 Mazmur kanonik dari bagian ketiga Mazmur dan tujuh  Mazmur apokrif termasuk satu yang dikenal dari terjemahan LXX (Mzr. 151) dua dari terjemahan Syria, dan satu dari Sirach 51:13-30. Jika dibandingkan dengan Masoretik Teks maka susunan Mazmur ini sangat jauh berbeda dengan 1QPsa, apalagi ditempatkannya Mazmur apokrif diantara Mazmur kanonik.

Papyrus

Papyrus termasuk salah satu bukti teks yang ditemukan pada tahun 1947. Karena sampai dengan tahun tahun itu, 1947, kesaksian tertua untuk teks PL (Ibrani) adalah lembaran papyrus yang didapat pada tahun 1902 oleh W.L. Nash di Mesir, yang kemudian juga didonasikan kepada perpustakaan Universitas Cambridge.  Papyrus ini kemudian, dalam studi teks PL, dinamakan Nash Papyrus. Isinya adalah salinan Dekalog/10 hukum, yang terutama didasarkan pada Keluaran 20:2-17 dan sebagaian dari Ulangan 5:6-21. Juga shema dari Ulangan 6:4.  Namun naskah papyrus ini tampak rusak/tidak terawat. Seorang arkeolog terkenal, W.F. Albright, menduga bahwa Nash Papyrus berasal dari periode Makabeus. Namun P. Kahle berpendapat bahwa papyrus ini berasal dari periode sebelum keruntuhan Bait Allah. Catatan khusus untuk shema (Ulangan 6:4 dst.). Dalam Nash Papyrus Shema dimulai dengan frasa yang sama dengan LXX dan tidak sama dengan Masoretik Teks (MT).

Fragmen Geniza

Apa yang ditemukan di Geniza di Mesir sungguh tidak ternilai. Diperkirakan ada 200.000 fragment yang ditemukan di sana. Di samping teks-teks Alkitab (dalam bahasa Ibrani, Aram, dan terjemahannya dalam bahasa Arab) ada juga Midrash, Mishna, Talmud, teks-teks liturgis, sejumlah daftar, huruf-huruf, dan masih banyak lagi (Würthwein, 35). Yang paling khusus adalah ditemukannya salinan Hikmat Yesus ben Sirah dalam bahasa Ibrani yang hampir komplit, yang diduga berasal dari dabad ke-2 atau ke-1 sM, yang juga disebut  ‘Dokumen Zadok’. Fragmen Geniza yang paling awal dapat diduga berasal dari abad ke-5 masehi. Anda yang berminat untuk melihat fragmen Geniza dapat melihatnya secara langsung di perpustakaan Cambridge University dan perpustakaan Bodleian di Oxford.

Manuskrip-manuskrip keluarga Ben-Asher

Pada paruh kedua dari abad ke-8 s.d. abad ke-10 M, keluarga Ben-Asher, yang dikenal sebagai Masoretes (ahli-ahli kitab), memainkan peran penting di kalangan Masoret di Tiberias. Melalui mereka kita mewarisi beberapa kodeks yang sampai hari ini bisa kita gunakan.

  1. Kodeks Kairensis (C). Kodeks ini berisi Former dan Latter Prophets di tulis/disalin oleh Moses ben Asher pada tahun 895 M. Hal itu teridentifikasi dari kolofon kodeks. Meskipun beberapa ahli, misalnya L. Lipschütz dan yang lainnya, mencoba membuktikan dengan berbagai cara bahwa kodeks ini sebenarnya lebih cocok disebut dekat dengan tradisi Ben-Naftali.  Belakangan kodeks ini menjadi direstorasi dan dimiliki oleh sekte (komunitas) Karaite di Kairo.
  2. Kodeks Aleppo. Manuskrip ini berisi Perjanjian Lama seluruhnya dan diperkirakan berasal dari paruh pertama abad ke-10 M. Dari kolofon diketahui bahwa Moses ben Asher tidak sendirian menulis/menyalin kodeks ini.  Moses ben Asher justru bertanggung jawab mencantumkan tanda-tanda vokal dan tanda baca lainnya, misalnya: tanda aksen, dll. Tidak seperti kodeks lainnya, ternyata kodeks Aleppo digunakan secara liturgis, misalnya pada hari raya Paskah, Tabernakel, dll. Kodeks ini tidak digunakan untuk studi.
  3. Kodeks Leningradensis (L). Manuskrip ini berasal dari keluarga Ben-Asher. Dari kodeks inilah kita memperoleh teks standar PL. Dari kolofon terungkap bahwa manuskrip ini disalin/dikopi pada tahun 1008 M dari eksemplar-eksemplar yang disalin oleh Aaron (Harun) ben Moses ben Asher.

Kodeks Petersburg

Kodes Petersburg (VP) berisi salinan Kitab Nabi-nabi diantaranya: Kitab Yesaya, Yehezkiel, dan Kitab nabi-nabi Kecil termasuk kedua adanya catatan masora yakni small dan large masora. Kodeks ini diperkirakan berasal dari tahun 916 M. Kodeks ini ditemukan oleh Firkowitsch pada tahun 1839 M, di sinagoge Chufutkaleh di Crimea.  Signifikansi kodeks ini memberikan legitimasi pada sistem vokal Babylonia yang sempat tidak terdengar beberapa abad lamanya. Meskipun demikian dalam beberapa halaman (hlm. 212a, 221a) terlihat bahwa system vokal Babylonia diganti dengan system Tiberias.

Kodeks Erfurt

Kurang lebih tiga kodeks yang digunakan dalam BHK, yang dikenal dari lokasi mereka mula-mula, yakni Erfurtenis 1, 2, dan 3.  Erfurt 1 (E1) berasal dari abad ke-14 M dan berisi PL (Ibrani), Targum, dan small serta large masora. Erfurt 2 (E2) berasal dari abad ke-13 M, berisi PL (Ibrani), Targum Onkelos dan small serta large masora. Erfurt 3 (E3) diperkirakan berasal dari tahun 1100 M (Kahle). Kodeks ini berisi: PL (Ibrani), small dan large Masora, kutipan-kutipan Okhla weOkhla. Ini adalah manuskrip yang penting.

Beberapa kodeks yang hilang

Di samping kodeks-kodeks di atas, ada juga kodeks lainnya yang hilang. Sejumlah kodeks ini dirujuk dalam Biblia Hebraica (BH).

  1. Kodeks Severi (Sev.). Manuskrip ini berasal dari sinagoge Severus di Roma. Terdapat 32 variant bacaan Pentateukh di dalamnya. Menurut informasi, kodeks ini adalah bagian dari jarahan yang dibawa ke Roma pada tahun 70 M dan dipersembahkan kepada Kaisar Severus (+ 222-235 M) yang kemudian dibawa ke sebuah sinagoge yang dibangunnya.  Saya setuju dengan Würthwein yang mempertanyakan akurasi informasi ini. Sebab jika tradisi ini benar maka manuskrip ini tidak termasuk dalam kategori kodeks, namun lebih kepada kategori ‘gulungan’ (scroll). Pada catatan kritik apparatus Kejadian 18:21; 24:7 dan pada versi BHK, khususnya Bilangan 4:3.
  2. Kodeks Hillel (Hill.). Secara tradisional ditulis oleh Rabi Hillel ben Moshe ben Hillel kira-kira tahun 600 M. Oleh para sarjana PL, kodeks ini dianggap sangat akurat.  Itulah sebabnya kodeks ini digunakan untuk mengoreksi manuskrip-manuskrip lainnya.
  3. Kodeks Muga. Belum jelas, apakah Muga merupakan indikasi nama tempat atau penulis. Atau apakah Muga juga merupakan indikasi bahwa (artinya: benar, tepat ‘corrected’) teks itu adalah yang tepat, benar.  Band. apparatus (BHK) Kej. 6:3; 19:6, dan BHS, Kel. 25:19; Im. 26:9.
  4. Kodeks Yerikho. Lihat apparatus Kej. 31:36; Bil. 24:23 dan pada versi BHK, Bil. 5:28.  Tidak ada informasi mengenai kodeks ini.
  5. Kodeks Yerushalmi.  Band. apparatus Kej. 10:19 (BHK).  Tidak ada informasi tentang kodeks ini.

keterangan: gambar diambil dari http://www.truthnet.org/Bible-Origins/1_WhatistheBible/index.htm.