Jejak-jejak [pemikiran di sekitar] teologi Perjanjian Lama

15 02 2011

Johann P. Gabler

Secara umum permulaan biblical theology baru muncul pada 30 maret 1787 ketika Johann P. Gabler berceramah tentang perbedaan antara teologi biblika dan teologi sistematika. Gabler berpendapat bahwa keduanya berbeda dalam asal-asul dan tujuan.  Originalitas teologi biblika menurut Gabler terletak pada historis, sedangkan teologi sistematika terletak pada didaktis. Dengan kata lain teologi biblika mengakar pada teks, teologi sistematika lebih berorientasi pada teolog itu sendiri yang sebelumnya sudah berkomitmen pada filsafat dan eklesiologi. Tujuan teologi biblika adalah mengungkapkan apa sebenarnya yang dipercaya oleh penulis-penulis Alkitab (diakronis-synkronis). Di samping itu bagi teologi sistematika yang penting adalah to prepetuate a preestablishe point of view. Sebagai seorang rasionalis ia mereduksi sedemikian rupa pokok inspirasi Alkitab. Menurutnya yang kelihatan saja yang dapat dijangkau dengan pikiran yang disebut inspirasi. Jadi pendekatan Gabler tidak memasukan dalam agendanya tentang sesuatu yang ‘tidak kelihatan’.  Pendekatannya memiliki kekuatan dan kelemahan.  Kekuatannya adalah desakan yang kuat dari teologi biblika kepada teologi sistematika.  Yang kedua adalah analisis sejarah.

Georg L. Bauer

Kekuatan dan kelemahan metode pendekatan Gabler dapat ditelusuri dalam buku Georg Lorenz Bauer yang diterbitkan pada tahun 1796. Bauer setuju dengan pendirian Gabler bahwa teologi biblika sebaiknya mendahului teologi sistematika.  Bauer sama sekali tidak memberikan ruang kepada penyataan Allah yang bernuansa supranatural , misalnya: theofani, mukjizat dan nubuatan.  Karena hal-hal demikian dianggap bertentangan dengan akal sehat.  Bauer menerjemahkan mukjizat sebagai myth.  Pendirian anti-supranaturalis demikian akhirnya menggiring Bauer mendefinisikan sejarah di atas pondasi rasionalitas.  Pada satu sisi ia dinilai tidak konsisten.  Karena sementara ia begitu gigih berusaha untuk menolak teologi systematika, ia justru memilih membagi karyanya dalam kategori teologi systematika a.l. (1) teologi, (b) anthropologi, (3) Kristologi.  Baik Gabler maupun Bauer berpendapat bahwa teologi biblika harus diperkuat dengan komponen-komponen historis. Meskipun memang sangat disayangkan keduanya tidak memberi ruang yang cukup untuk supranatural. Keduanya juga berpendapat bahwa Perjanjian Lama justru mengajarkan kebenaran yang universal yang dapat diaplikasikan oleh orang-orang Kristen di seluruh zaman.

G.P.C Kaiser

Pemikirannya sebenarnya masih berkaitan erat dengan Gabler dan Bauer. Dalam bukunya Die Biblische Theologie (The Biblical Theology) yang dipublikasikan pada tahun 1813 Kaiser menyatakan bahwa religi Perjanjian Lama sebenarnya adalah salah satu religie di antara banyaknya religi pada waktu itu. Pemahamannya tentang religi pada akhirnya menjadikannya sarjana PL pertama yang melihat studi teologi PL secara esensial sebagai sebuah sejarah agama dibanding sejarah penyataan Allah.

Wilhem M.L. de Wette

Dalam bukunya Lehrbuch der christlichten Dogmatiek (th. 1813) ia mencoba memetakan sebuah jalan kecil antara ortodoksi dan rasionalisme. Meskipun ia mensharingkan konklusi penganut rasionalisme tentang penggambaran Alkitan mengenai mukjizat, nubuatan-nubuatan dll., ia justru juga dalam beberapa prinsip menolak pemikiran kaum rasionalis.  Menurutnya myth berkaitan dengan pengertian puitis tentang ekspresi perasaan tentang Allah dan hal-hal yang dianggap suci. Pemikirannya tentang teologi dibangun di atas pendekatan filosofis.  Ia diajar oleh sahabatnya, J.F. de Fries, yang dipengaruhi oleh pemikiran Kant. Sebab itu ia percaya bahwa Tuhan menginspirasikan akal budi dan perasaan manusia. Seperti para pendahulunya, ia menggunakan sebua metodologi historis  yang didasarkan pada prinsip-prinsip rasionalis. De Wette juga beranggapan bahwa ada bagian-bagian Alkitab (PL) yang tidak diinspirasikan oleh kehendak Allah yang kudus.

Wilhem Vatke

Pemikiran teologinya membangkitkan Perjanjian Lama untuk menjauh dari rasionalisme murni dengan pendekatan filosofis. Ia sependapat dengan Hegel (bukan Kant) yang beranggapan bahwa sejarah adalah suatu rangkaian (seri) yang berkembang dari tingkatan yang rendah ke arah tingkatan yang lebih tinggi dalam pemikiran dan tindakan. Secara sederhana pemikirannya bisa digambarkan demikian: ketika sebuah tindakan dan pemikiran (disebut: tesis) menghasilkan sebuah reaksi (disebut: antithesis) yang sesudah itu beranjak ke tingkatan yang pemikiran atau tindakan yang lebih tinggi lagi (disebut: sintesis). Menurutnya sejarah adalah sintesis. Bandingkan juga dengan pemikiran Hegelian yang menyebutkan bahwa teologi PL berarti bahwa agama PL berkembang secara progresif dan lebih kompleks.  Vatke berpendapat bahwa ke-4 (dokumen) kitab Pentateukh (Kej-Bil.) tidak diproduksi pada zaman Musa, tetapi diproduksi oleh suatu umat (bangsa) yang lain yang lebih belakangan. Dan Kitab Ulangan, menurutnya, ditulis pada zaman pemerintahan Yosia, pasca ditemukakannya teks kitab Ulangan. Ia percaya bahwa sebagian besar cerita dalam PL tidak berasal dari periode di mana penulis itu menulis cerita Alkitab.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: