Menelusuri Sejarah Perkembangan Naskah Perjanjian Lama

21 02 2011

Penggalian dan penemuan telah mengungkapkan kekayaan yang tak terduga tentang aktifitas yang berkenaan dengan kesusastraan di Palestina dan Syria. Beberapa perbedaan system penulisan ditemukan di sana selama periode milenium ke-2 sM. Misalnya system penulisan yang asing bagi kita yakni ‘tulisan paku’ (cuneiform script).

Hal ini juga menandakan bahwa telah terjadi perkembangan yang luar biasa mengenai system penulisan.  Dahulu system penulisan menggunakan ratusan huruf. Sekarang kita hanya mengenal  ‘alfabet’, yang menurut Würthwein, adalah bentuk sederhana dari seluruh bentuk system penulisan yang pernah ada.  Dengan kata lain dari ratusan dipersempit menjadi sekurang-kurangnya 20-an huruf.

Perkembangan di atas tentu saja memiliki signifikansi jika kita ingin membahas Perjanjian Lama dan proses perkembangan atau terbentuknya.

Semua manuskrip dan fragmen Perjanjian Lama (dalam bahasa Ibrani) yang ada pada kita berasal dari sumber-sumber Yahudi. Misalnya yang paling awal adalah Qumran dan Papirus Nash. Dengan beberapa pengecualian  keduanya ditulis dalam bentuk naskah (teks) kwadrat (ketab meruba’) atau naskah Assyria (ketab ’assuri).  Keduanya bahkan masih digunakan hingga zaman Tuhan Yesus. Misalnya ketika kita membaca kiasan ‘yod’ (baca: iota ‘subscript’) sebagai bentuk terkecil dari alphabet (Mat. 5:18).  Kiasan ini akan menjadi benar dan akurat apabila kita mengertinya dalam Konteks square script (alfabet yang ditulis dalam bentuk kwadrat). Sistem penulisan kwadrat sebenarnya berkembang secara gradual dari naskah Aramik yang digunakan secara luas pada zaman itu. Misalnya kita bisa temukan itu dalam inskripsi  ‘Araq el-Emir, di sebelah timur Yordan. Inskripsi ini diperkirakan berasal dari abad ke-4 atau 3 sM. Ada juga yang bukti yang lain, misalnya fragmen-fragmen awal Qumran  (4QSamb dan 4QJera) yang diperkirakan berasal dari tahun 200 sM. Sejauh itu, menurut Würthwein, orang Yahudi sadar bahwa naskah-naskah di atas bukanlah naskah mereka yang paling awal. Salah satu tradisi Yahudi dalam introduksni menghubungkan dengan Ezra, kira-kira 430 sM.

Yang paling logis sebenarnya adalah menganggap bahwa perkembangan naskah-naskah Ibrani (PL) berhubungan erat dengan bahasa Aram tinimbang anggapan para rabi yang mengatakan bahwa sebenarnya Torah yang diberikan kepada Musa untuk pertama kalinya adalah dalam bentuk atau system penulisan kwadrat. Namun karena dosa Israël, naskah itu telah berubah.  Akan tetapi pada zaman Ezra, naskah asli (dalam bentuk kwadrat) kembali direstorasi. Pandangan para rabi ini tidak didukung oleh sejarah yang kuat.

Dikatakan di atas bahwa bahasa Aram memainkan perannya dalam perkembangan naskah Ibrani Perjanjian Lama. Sebab pada waktu itu bahasa Aram adalah bahasa internasional (baca: lingua franca) di Timur Tengah Kuno (Ancient Near Eastern). bersambung….

keterangan: gambar pertama diambil dari http://endtimesworldnews.punt.nl/?id=458375&r=1 &tbl_archief=&, 21 feb 2011; sedangkan gambar kedua dari http://www.scottfillmer.com/2010/06/05/how-ancient-near-east-writings-clarify-scripture/, 21 feb 2011


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: