AYAT atau SA[N]JAK?

24 02 2011

Ketika kita berhadapan dengan teks-teks puisi, secara normatif kita tidak akan terpengaruh dengan intensi ini: ayat atau sajak? Namun, secara deskriptif, pretensi kita akan dipaksa memilih salah satu dari keduanya. Karena puisi dan prosa adalah dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki ciri khas masing-masing.

Dua [spektrum] terminologi di atas terepresentasi secara jelas pada dua sarjana Perjanjian Lama berikut ini:

M. O’Connor

Ia mengusulkan sebuah sistem pembatasan sintaksis untuk mendefinisikan sebuah ayat atau sebuah baris. Dalam hal ini ia menggunakan tiga istilah untuk menunjang sistemnya, antara lain: (1) klausa, (2) konstituent [baca: unsur pokok], (3) unit.  Klausa terdiri atas klausa verbal dan klausa tanpa kata kerja. Konstituent dicirikan oleh setiap kata kerja dan frasa nominal (kata benda)  serta partikel-partikel bergantung pada klausa. Unit adalah independensi kata kerja atau kata benda bersama dengan partikel-partikel lainnya bergantung padanya.

Menurut sistem ini sebuah baris ayat biblikal bisa berisi tidak lebih dari tiga klausa; bisa berisi antara satu dan empat konstituen; dan bisa juga berisis antara dua sampai lima unit. Menurut O’Connor bentuk baris yang dominan bersisi satu klausa  dan baik dua maupun tiga konstituen dengan dua atau tiga unit.

Misalnya Keluaran 15:7:

7a Dalam keluhuran-Mu yang besar, Engkau telah meruntuhkan orang yang bangkit menentang-Mu

7b Engkau melepaskan api murka-Mu

7c yang memakan mereka sebagai tunggul gandum

Dalam baris 7a terdapat satu klausa dengan tiga konstituen; dalam baris 7b terdapat satu klausa dengan dua konstituen; sedangkan baris 7c juga terdapat satu klausa dengan dua konstituen.

Adele Berlin

Berbeda dengan O’Connor, Adele Berlin, memilih menggunakan ‘sajak’ tinimbang ‘ayat’.  Yang ia maksud dengan sajak adalah sebuah tipe discourse (percakapan atau pidato) yang menggunakan sebuah tingkatan yang tinggi dari tropes (bentuk nyanyian yang dinyanyikan di Sinagoge atau biasa disebut cantillation) dan figur. Sajak dapat dibedakan dari discourse non-puisi (narasi sejarah, pidato legalistik).  Sajak juga menggunakan  bunyi dan  menghubungkan itu dengan arti dengan cara yang menarik. Saya setuju dengan gagasan Berlin bahwa sebuah puisi menyampaikan pemikiran melalui sebuah struktur bahasa yang khas yang menaruh perhatian pada bagaimana dan apa pesan yang akan disampaikannya.  Pada saat yang bersamaan, lanjut Berlin, bagaimana dan apa tidak dapat dipisahkan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: