Para Masoret

2 03 2011

Para masoret dapat dibagi ke dalam dua kelompok: masoreten der Ostens (para masoret Timur, tepatnya para masoret Babylonia) dan masoreten der Westens (para masoret Barat, para masoret Palestina). Di timur bisanya dikenal melalui manuskrip: V(ar)Ka dan di barat: V(ar)pal. Keduanya diadaptasi/dikutip oleh Kahle dalam BHK.

Setelah sekian lama tidat terdengar aktifitas mereka, kira-kira pada tahun 780-930 M, para masoret di bagian Barat kembali menunjukan perkembangan yang sangat signifikan.  Pemicunya adalah munculnya secara serius sebuah sekte Karaite yang dipelopori oleh ‘Anan ben David pada kisaran tahun 760 M. Sekte ini menolak Talmud karena tafsiran yang lebih literal terhadap teks. Artinya bahwa keberadaan sekte ini memicu interes/ketertarikan yang lebih segar lagi dalam kaitannya dengan teks Alkitab dan perlunya penjelasan lebih lanjut mengenai pronunciation (pelafalan) teks PL setepat mungkin.

Di samping Babylonia dan Palestina yang dikenal sebagai tempat para masoret, muncul juga para masoret di tempat lain yakni Tiberias. Pada waktu itu Tiberias dikenal sebagai pusat studi. Mereka, menurut saya muncul bukan saja dipicu oleh kemunculan sekte Karaite tetapi juga karena ketidaksempurnaan system pelafalan dan intonasi Palestina. Memang kita tidak dapat menolak bahwa system prononsiasi dan intonasi Tiberias tidak lepas dari system yang sudah ada sebelumnya, Palestina.  Artinya, system Tiberias sebenarnya adalah kombinasi serta penyempurnaan dari ketidaksempurnaan system pelafalan dan intonasi dari system Palestina.

Para masoret yang terkenal di Tiberias adalah dari keluarga Ben Aser. Misalnya hubungan masoret Ben Aser dengan kodeks Aleppo dan Cairensis.  Namun di samping Ben Aser, ada juga masoret lain yang terkenal yakni Ben Naftali. Keduanya, menurut sarjana Yahudi Mishael ben ‘Uzziel dalam traktatnya yang terkenal Kitab al-Khilaf (kira-kira abad ke-11/12 M), bisa dikatakan bahwa dalam teks yang disalin baik oleh Ben Aser maupun oleh Ben Naftali, menyiratkan  kesamaan yang cukup signifikan. Keduanya, menurut Würthwein, hanya berbeda delapan kali dalam teks konsonan. Perbedaan mereka secara menyolok terendus dalam rincian-rincian yang tidak terlalu penting mengenai vokalisasi dan aksen.  Ben Naftali telah memengaruhi perkembangan teks selanjutnya dengan lebih banyak/sering menggunakan meteq.  Perbedaan yang lain adalah ketika kita prefiks be we le jika dirangkai dengan sebuah kata yang dimulai dengan konsonan yod, misalnya: yisra’el. Dalam teks Ben Aser ditulis: beyisra’el (tidak ada perubahan sama sekali), sedangkan dalam teks Ben Naftali ditulis: bisra’el (terdapat asimilasi antara shewa di bawah konsonan beth dan shewa di bahwa konsonan yod. Keduanya kemudian membentuk satu vokal hireq[-yod].

keterangan: gambar diambil dari: http://www.free-online-bible-study.org/hebrew-bible-study.html


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: