Keluaran 4:16; 7:1-5: “elohim” dan “nabi”

7 12 2011

Dua kata ini mendadak seleb (baca: popular). Bagaimana tidak, Musa sendiri disebut sebagai elohim ketika akan menghadap dan berdiri di hadapan Firaun (Amenhotep II atau Ramses II?, yang juga menyebut dirinya elohim), dan kakaknya, Harun, akan berperan sebagai nabi. “Elohim? Nabi? Apakah tidak keliru?” Begitulah kira-kira reaksi kita. Apa yang disebut dalam Kel. 7 ini tidak salah alias benar adanya. Dalam teks ini, peran keduanya bukanlah peran pengganti. Baik Musa dan Harun sama-sama menunaikan peran ‘sungguhan’ sebagaimana ditandaskan pada awal pasal ini (7:1-2).
Lalu apa arti sebenarnya kedua kata ini? Jawabannya bergantung pada konteks dialog sarat makna antara TUHAN dan Musa (Kel. 3:1-4:17; 6:2- 12). Dalam Keluaran 4:10, 13; 6:12, 30 Musa mengelak pengutusannya ke Firaun. Tentu saja ia menolak tidak secara frontal tanpa alasan jelas, sebagaimana lazim penolakkan kita: “pokoknya…tidak” . Menurut pengakuan Bil. 12:3 Musa adalah seorang yang lembut hatinya, bahkan melebihi siapapun di muka bumi. Sebab itu, kita bisa menarik benang merah dari sana dan menyimpulkan bahwa ia pasti menjawab dengan kalem, jauh dari “pokoknya….”. Dari sinilah kita bisa mulai menelusuri arti kedua kata ini.
Sekarang kita akan melihat secara dekat kata nabi dulu. Disebutkan diawal bahwa abangnya, Harun, akan menjadi nabi bagi Musa (lih. penegasan dalam Kel. 7:1 akhika yihye nevi’eka “saudaramu akan menjadi nabimu”). “nabi-mu” sangat jelas adalah sebuah “clue” yang akan menggiring kita pada fakta bahwa Harun, atas nama Musa, akan meneruskan perkataan Musa kepada Firaun (lih. Kel. 7:2; bnd. 4:16). Titik terang arti nabi di sini segera muncul ke permukaan, yakni agak sedikit umum. Nabi (dalam konteks ini) menunjuk kepada seseorang yang “tidak mesti/harus” mengucapkan nubuatan (mengenai hal-hal futuris), tetapi juga adalah seseorang yang atas nama TUHAN meneruskan perkataan-Nya.
Nabi, sudah. Bagaimana dengan elohim? Apakah TUHAN tidak salah menentukan Musa sebagai elohim? Tidak! TUHAN memang benar menyebutnya elohim. Penyebutan itu tentu memiliki latarbelakang. Kita tentu paham bahwa di dunia Mesir, seorang raja (baca: Firaun) adalah elohim. Para firaun selalu memandang dan menempatkan diri mereka pada level elohim. Apabila ide ini ikut bermain dalam teks ini, maka kita akan terkagum-kagum dengan cara TUHAN meng-encourage Musa dengan cara memberikan kuasa padanya. Tujuannya ialah agar Musa tidak perlu takut menghadap Firaun, meskipun Firaun dikenal bahkan dielu-elukan sebagai elohim di seantero Mesir. Jadi TUHAN menyebut Musa “elohim” sebagai kebalikan yang setara dengan firaun, raja Mesir yang ditakuti. Itulah arti elohim bagi Musa!


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: