TEKS KITAB YEREMIA

7 12 2011

Teks kitab Yeremia telah menjadi kutub magnet yang kuat menarik kritik teks (lower criticism) dan kritik sejarah dan literer (higher criticism). Di kalangan para sarjana, misalnya, sudah bukan rahasia lagi bahwa teks LXX (Septuaginta) Kitab Yeremia tidak berisi kata yang sama dengan MT (Masoretic Text). Jumlahnya juga tidak tanggung-tanggung, 2,700 kata. MT dalam posisi lebih panjang dari LXX. LXX tidak hanya berisi teks yang lebih pendek, tetapi juga ada sejumlah perbedaan susunan, misalnya ucapan-ucapan ilahi terhadap bangsa-bangsa (46-51, versi MT), telah direlokasi pada posisi sesudah Yeremia 25:13.
Perdebatan mengenai perbedaan yang signifikan dari kedua sumber teks ini (MT dan LXX), juga memicu serentetan pertanyaan apakah ini adalah hasil dari seorang editor yang menuangkan kembali MT atau apakah penerjemah LXX mengikuti teks Ibrani yang lain dari pada yang terepresentasi dalam MT. Penemuan naskah-naskah Qumran juga tidak menyurutkan perdebatan itu, meskipun fragmen 4QJer(a) dan 4QJer(c) memiliki kesamaan dengan teks MT dan memberikan bukti, menurut Longman/Dillard, saksi awal untuk teks MT dalam Kitab Yeremia. Sebaliknya fragmen 4QJer(b) justru sejalan dengan teks Ibrani yang digunakan oleh penerjemah LXX. Memang agak rumit menjatuhkan pilihan, mana yang lebih awal. Dugaan mengenai kemungkinan para penerjemah LXX menggunakan teks Ibrani lain di luar MT, terlalu lemah, karena sejauh ini hanya ada beberapa sumber teks Ibrani yang dapat diajukan, misalnya: Pentateukh Samaria (terbatas pada lima kitab Musa), kodeks Aleppo (kira-kira tahun 930 M), kodeks Leningrad (kira-kira tahun 1010 M), dan juga teks Qumran yang ditemukan pada tahun 1941. Dan sampai sekarang itu hanya sekadar proposal.
Secara sepintas, dan itu alamiah, terendus kesan bahwa yang lebih “ringkas” itulah yang merepresentasikan tingkatan lebih awal dalam sejarah teks sebuah kitab. Dari situ kemudian akan tampak upaya perluasan dari penyalin untuk megklarifikasi/menjelaskan ataupun cara lain kepada para pembaca.
Langkah-langkah pemecahan lainnya adalah diajukannya proposal bahwa bisa saja persoalan teks ini diselesaikan pada tingkat transmisi teks yang adakalanya bermuara pada kesalahan para penulis dalam dal penghilangan sejumlah kata (haplografi) maupun pengulangan beberapa kata (ditografi), dll. Tetapi, lagi-lagi gagasan di atas dianggap tidak bisa memecahkan persoalan ini.
Emanuel Tov sendiri berusaha menengahi masalah ini dengan memberikan gambaran mengapa teks MT lebih panjang. Ia mengajukan dua klasifikasi: 1) editorial, dan 2) perubahan eksegetis. Perubahan editorial, menurutnya mencakup beberapa kategori: a) aransemen teks (salah satu contoh adalah letak ucapan-ucapan ilahi terhadap bangsa-bangsa lain), b) penambahan headings pada nubuatan-nubuatan (lih. Yer. 2:1-2; 7:1-2; 16:1; 27:1-2); c) pengulangan beberapa bagian (lih. Yer. 6:22-24=50:41-43; 10:12-16=51:15-19); d) penambahan ayat-ayat baru dan beberapa bagian (mis. Yer. 10:6-8; 17:1-4; 46:26, dll., yang tidak ditemukan dalam LXX); e) penambahan detail-detail (Yer. 25:20, 25, 26); dan f) adanya modifikasi pada sejumlah isi dan formula-formula (Yer. 29:25; 35:18; 36:32).

bersambung…..


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: